Perkembangan yang Belum Sempurna Pada Industri Handycraft di Sawahlunto

0
72

SAWAHLUNTO -Industri handycraft yang masih berjalan lambat dan belum berkembang belum mengikuti destinasi yang menggeliat yang ada di kota tambang Sawahlunto. Perkembangan industri dan di Sawahlunto belum berbanding lurus dengan pertumbuhan pariwisatanya
lebih antusias menyaksikan 2016 yang dilaksanakan di Lapangan Segitiga Sawahlunto, ketimbang harus mengunjungi stand dari handycraft yang memang disediakan selama iven berlangsung.

“Pertumbuhan industri kerajinan kita belum sama geliatnya dengan di Sawahlunto, tetapi kami terus benahi,” kata Efriyanto.

Untuk meneruskan industri handycraft hanya saja dibutuhkan komitmen yang tinggidan kefokusan dalam pengrajin tersebut. Karena industri handycraft sudah on the track. Inilah yang menjadi dasar Sawahlunto menjadi salah satu daerah Pilot Project Badan (BeKraf) dalam program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON).

Dalam program ini, BeKraf menurunkan tim yang terdiri dari anak-anak muda untuk bekerjasama dengan UKM dan pengrajin handycraft dalam melahirkan produk yang inovatif sehingga bernilai jual tinggi.

“Sawahlunto menjadi pilot project program IKKON dari Bekraf, tujuannya agar produknya bernilai jual tinggi,” ujarnya.

Selama kurang lebih sebulan tim yang terdiri dari berbagai profesi ini akan berbagi dan berkolaborasi dengan pengrajin untuk melahirkan produk-produk unik dan kreatif yang disukai oleh wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.

Juni lalu Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan Program IKKON sendiri, dengan tema 2016 difokuskan pada sub sektor mode, desain produk, desain interior dan desain komunikasi visual dalam rangka mengembangkan potensi kain tradisional.

Program ini dilaksanakan di 5 daerah di Indonesia, yang terdiri dari Sawahlunto (tenun), Lampung (tapis), Brebes (batik), Rembang (batik) dan Ngada Flores (tenun).

 

 

 

 






No tags for this post.

Related posts