Pemuteran Bay Festival, Bali

0
135

, wisata berbasis alam yang menjadi agenda tahunan tersebut, bakal dihelat di dua tempat. Di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, dan Tanjung Budaya Dalem, Bali.

Wisata alam Kabupaten Buleleng memang layak dieksplorasi. Karena sangat keren. Buleleng memiliki pantai sepanjang kurang lebih 144 km. Daerah ini memiliki hasil pertanian yang melimpah. Termasuk juga dikenal sebagai penghasil salak dan jeruk keprok. Buleleng juga memiliki objek pariwisata yang cukup banyak. Contohnya Pantai Lovina, Pura Pulaki, dan Air Sanih.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani merinci, pada kawasan pariwisata Lovina terdapat 8 desa. Yaitu Pemaron, Tukad Mungga, Anturan, Kalibukbuk, Kaliasem, Temukus, Tigawasa, dan Kayu Putih.

Kemudian di kawasan pariwisata Batu Ampar terdiri dari 8 desa, yaitu Penyabangan, Banyupoh, Pemuteran, Sumberkima, dan Pejarakan. Selanjutnya kawasan pariwisata Air Sanih terdapat 10 desa, seperti Desa Bukti, Pacung, Sembiran, Julah, Bondalem, Tejakula, Les, Penuktukan, Sambirenteng, dan Tembok. Untuk kawasan daya tarik wisata khusus Pancasari ada 6 desa, yaitu Pancasari, Munduk, Wanagiri, Gesing, Gogleg, dan Umejero.

Masing-masing daerah atau desa memiliki keunikan tersendiri, sehingga berdasarkan Peraturan Bupati Buleleng No.51/2017 ditetapkan 86 daya tarik wisata. Antara lain Nasional Bali Barat, Pura Jaya Prana, Taman Laut Menjangan, Banyuwedang, Pengumbahan, dan Danau Buyan

Kegiatan ini digagas berdasarkan komitmen masyarakat Desa Pemuteran untuk melakukan konservasi lingkungan. Serta mewujudkan Pemuteran sebagai tujuan wisata alternatif berbasis pemberdayaan masyarakat.

Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Ricky Fauzi menambahkan, Pemuteran Bay Festival sudah digelar sejak tahun 2015. Dari tahun ke tahun, kegiatan terus diperbaiki agar lebih menarik dan tidak terkesan monoton.

“Tahun ini, ada beberapa rangkaian kegiatan yang bisa diikuti. Yaitu sharing with the founder of biorock technology, the rwa bhineda, creative talk, art and healing session, dan workshop olah sampah plastik,” ujarnya.

Dengan adanya Pemuteran Bay Festival, secara umum tercatat ada 954.730 wisatawan yang mengunjungi Kabupaten Buleleng tahun 2017. Terdiri dari wisatawan nusantara sebanyak 681.966 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 272.764 orang.

“Untuk tahun 2018, ditargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 1.002.466 orang, dengan rincian winus 716.064 orang dan wisman 286.402 orang,” bebernya.

Dengan segala potensi yang ada, tak heran jika kemudian Pemuteran meraih sejumlah prestasi atau penghargaan. Antara lain masuk Top 10 Lonely Planet Terbaik Asia 2016 terkait keberadaan terumbu karang hasil teknologi biorock. Pemuteran juga terpilih sebagai Best in Responsible Tourism “Coral Reef Revival Impetus in Pemuteran Village, Bali” dari International Travel & Tourism Awards 2018.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap perkembangan ekowisata semakin meningkat. Tak hanya jumlah pengunjung yang meningkat, namun juga bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam.

“Jika alam semakin dilestarikan, maka masyarakat pun akan semakin sejahtera. Dibanding industri lain, pariwisata paling ramah lingkungan. Khusus wisata berbasis alam, setidaknya telah memberi kontribusi lebih dari 5 persen dari jumlah global,” ucapnya.

Pemuteran Bay Festival 2017 sarat akan nilai-nilai filosofi, hingga event yang didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini terasa sangat sakral. Sakral bukan saja kental dengan nuansa adat budaya Bali, tapi festival ini pun mengandung nilai penting untuk menghidupkan kembali industri pariwisata Dewata.

Pemuteran Bay Festival 2017 yang digelar sejak 13 sampai 16 Desember benar-benar istimewa. Sebab, ini menjadi edisi perdana festival yang mengeksplor keindahan alam dan budaya di wilayah Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dipilihnya Pemuteran sebagai start tidak lepas dari nama besar yang disandang desa ini. Meletakan alam sebagai komoditi pariwisata, Pemuteran menjelma jadi sentra konservasi terumbu karang dan telah meraih sedikitnya empat pujian internasional. ISTA Gold Award pun menjadi pujian terakhir yang diterima mereka.

Menghormati keseimbangan alam, rangkaian Pemuteran Bay Festival dimulai dengan konservasi alam melalui metode biorock. Metode ini memakai struktur besi yang dialiri listrik arus lemah 3,8 volt sampai 12 volt hingga mineral yang larut ikut tertarik lalu membentuk karang dalam rangka besi. Membentuk biorock menjadi Garuda, patung burung simbol negara seberat 3 ton ini pun ikut ditenggelamkan. Saat ini sekitar 100 patung dari berbagai rupa sudah menghiasi dasar laut Teluk Pemuteran. Wakil Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra mengatakan, Burung Garuda akan menjadi maskot Pemuteran.

“Apresiasi bagi pemangku wisata hingga terlaksananya festival ini. Melakukan promosi pariwisata, tapi tidak melupakan konservasi lingkungan. Festival ini diawali dengan peresmian patung Garuda. Garuda banyak maknanya dan salah satunya simbol dari keberagaman yang harus dirawat hingga menguatkan. Patung Garuda tersebut nantinya akan menjadi ikon laut di Pemuteran,” ungkap Nyoman Sutjidra yang membacakan sambutan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana.

Usai melakukan peresmian biorock replika Burung Garuda, para stakeholder pariwisata menaiki perahu menuju sisi lain dari Teluk Pemuteran dengan diiringin live musik tradisional Bali. Di sisi teluk tersebut, mereka menikmati parade budaya bersama masyarakat juga wisatawan (mancanegara dan nusantara). Ingin menunjukan kekayaan budaya Teluk Pemuteran yang kaya akan vibrasi harmoni, parade budaya pun dibuka dengan parade busana nusantara yang dibawakan oleh siswa Taman Kanak-Kanak. Mereka lalu bernyanyi lagu ‘Potong Bebek Angsa' hingga gerakan jenaka tarian disambut tawa pengunjung.

“Kami berharap besar dari beragam keunikan yang ditampilkan di Pemuteran Bay Festival ini. Sebab, pariwisata itu rentan dengan berbagai isu. Dengan pulihnya sektor pariwisata ini, harapannya ekonomi masyarakat pulih. Selama ini pariwisata memang menjadi lokomotif perekonomian Bali, meski masih ada sektor pertanian dan industri kecil. Dengan keunikan dan keindahan parade budaya ini diharapkan bisa mendatangkan kembali wisatawan asing,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Yuniarta Putra.

Mengeksplor kekayaan budaya, busana tradisional pengantin Pulau Dewata tempo dulu pun menjadi keunikan tersendiri. Sebab, para pengantin Bali waktu itu ternyata tidak memakai riasan wajah hingga terlihat semakin natural. 

Di strip parade berikutnya, masyarakat wilayah Pemuteran benar-benar ingin unjuk kreativitas melalui aneka ragam busana hasil daur ulang sampah anorganik juga organik. Dibuat tematik, parade busana daur ulang yang diberi label ‘Selamatkan Gurita' berhasil menyita perhatian. Sebab, para penari menceritakan fragmen kelahiran baru yang sangat identik dengan alam semesta.

“Bisa melihat langsung festival yang diisi dengan konsep parade budaya seperti ini tentu mengasyikan. Saya super bangga di sini. Bali dan Indonesia sarat keanekaragaman budaya dengan makna yang besar. Tariannya juga keren. Secara keseluruhan rangkaian acaranya sakral sekali,” kata Vokalis Slank Akhadi ‘Kaka' Wira Striaji.

Adrenalin seluruh seluruh pengunjung yang memadati lapangan sisi timur Teluk  Pemuteran semakin naik kala atraksi seni tari digulirkan. Dibuka dengan menu kontemporer, Tari Pancasila Sakti pun seolah menggambarkan tingginya kreativitas masyarakat Teluk Pemuteran. 

Menggunakan basic khas tari-tari tradisional Pulau Dewata, para penari memberi sentuhan baru dengan mengadopsi gerakan Tari Seribu Tangan yang familiar di Thailand. Sorak sorai penonton pun terus berlanjut kala suguhan berupa Tari diberikan.

Dibawakan secara kolosal, Tari Gebug Ende yang menjadi tradisi masyarakat Desa Sirau menceritakan  uji latih kadigdayaan 40 prajurit Kerajaan Karangasem. Dengan gagah berani dan kesaktiannya, prajurit tersebut berhasil memberikan rasa aman bagi wilayahnya. 

Pada awalnya memakai pedang dan tameng kayu, Tari Gebug Ende saat ini memilih menggunakan rotan dan bahan kulit sebagai tamengnya. Bukan hanya sekedar memberi hiburan, Tari Gebug Ende juga menjadi ritual sakral memohon hujan kepada Ida Betara. 

Dan, Tari Mutering Jagat jadi penutup parade budaya hari itu. Dibawakan secara kolosal, Tari Mutering Jagat menjadi miniatur wilayah Pemuteran yang dikelilingi oleh laut. Dengan kekayaan alam melimpah yang selalu dinikmati, masyarakat pun mengucapkan syukur atas segala karunia yang diberikan hingga bersatunya lingga juga yoni sebagai simbol dari kesuburan. Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Putu Ngurah, menjelaskan dipilihnya Teluk Pemuteran sebagai lokasi event sangat ideal.

“Ciri khas wilayah Pemuteran ini sangat kuat. Semuanya lengkap di sini. terumbu karang ada di sini dan terkenal sampai ke luar negeri, lalu budayanya juga sangat bagus. Dunia sudah menyatakan kalau Pemuteran itu indah. Spot-spotnya juga bagus-bagus untuk selfie. Tempat ini bisa menjadi ikon dan ke depannya, Pemuteran Bay Festival bisa dikembangkan menjadi Buleleng Bay Festival,” jelasnya.

Memanfaatkan kesegaran alam yang masuk Kabupaten Buleleng, event Yoga By The Bay juga bisa jadi treatment untuk mengembalikan kesegaran badan. Menyatu dalam keindahan dan vibrasi harmoninya, pesan keseimbangan jasmani dan rohani juga sangat kental. 

Lebih seru lagi, penyelenggaran Pemuteran Bay Festival mendatangkan instruktur dan penggiat yoga seperti Anjasmara, Prisciliia, Guru Made Sumantra, atau Bunda Dian Kania. Kegembiraan festival ini pun ditutup dengan olahraga lari dengan tema Unity Colorun. Event ini mengajak peserta untuk berlari menyusuri Teluk Pemuteran sejauh tiga kilometer sembari melakukan tabur warna.

“Konsep Pemuteran Bay Festival sejak awal memang sudah bagus. Semua aspek memang ada di situ. Wajar apabila respon yang diberikan masyarakat sangat bagus. Banyak wisatawan mancanegara yang juga datang ke sana. Event ini jadi awal yang positif untuk semua,”tandas Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)

(*)