Kota Wisata Siaga Satu

0
57

Kota Wisata Siaga Satu
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Baru-baru ini Kota Bukittinggi membuat gebrakan sebagai daerah tujuan wisata. Kini di Bukittinggi ada Janjang Koto gadang yang mirip dengan tembok China tersebut. Ini adalah kawasan wisata baru. Pemandangan Ngarai Sianok dari sana pun terlihat jelas. Kawasan Bukittinggi dan Agam, punya kawasan wisata baru. Namanya mirip-mirip dengan tembok China. Tapi yang di Kotogadang mungkin lebih cantik, pemandangan Ngarai Sianok dan pepohonan hijau terbentang. Pembangunan Ngarai Sianok ala Tembok China itu merupakan ide Menkominfo Tifatul Sembiring, yang juga merupakan putra asli Kota Bukittinggi. Pembangunan ini tidak menggunakan dana APBD maupun APBN, tapi murni bantuan dari Pak Tifatul Sembiring dan sejumlah di Jakarta yang telah bekerja keras mengumpulkan dana.

Hanya saja berita gembira sesungguhnya bakal menjadi bias melihat persoalan besar yang tak kalah gregetnya bagi pengembangan wisata di Kota Bukittinggi, yakni persoalan penataan sampah. Dalam sehari, Kota Bukittinggi memproduksi sampah sampai mendekati 500 M3. Sampah itu itu berasal dari pasar dan rumah tangga di 24 kelurahan. Sedangkan untuk mengolah sendiri sampah produksi itu, Bukittinggi baru mampu sampai 10 kubik saja. Ini menyangkut anggaran dan sebagainya.

Mengingat reputasi Bukittinggi sebagai kota wisata dengan dukungan alam semula jadi yang permai, agaknya pengelolaan sampah perlu mengalami quantum leap yang serius lewat proses modernisasi. Sudah saatnya Pemko Bukittinggi melakukan pemungutan sampah rumah tangga dengan membedakan kategorisasi sampah organik dan non-organik seperti yang sudah lama dilaksanakan di negara-negara maju. Untuk itu perlu penyediaan infrstruktur dan peralatan yang memadai, semisal tong sampah rumah tangga dengan kategorisasi sampah yang berbeda atau modernisasi bus pemungut sampah yang menggunakan teknologi yang selama ini terkesan jorok. Tak kalah pentingnya adalah pemko perlu bekerja sama dengan para pemulung karena mereka bukanlah objek, melainkan subjek penciptaan kebersihan di kota wisata ini.

Dalam jangka panjang, pengelolaan sampah di Bukitinggi tentu tidak bisa mengandalkan pola-pola tradisional lagi. Rencana yang pernah digulirkan untuk menciptakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai sumber energi listrik perlu dipercepat. Tentu ini mengharuskan kerja sama regional dengan kota atau daerah sekitarnya, semisal , Agam dan . Perusahaan asal Korea sudah bersedia menanamkan investasinya. Lagi pula, proyek ini bukanlah sesuatu yang tidak pernah diuji coba.

Soal pengolahan sampah jadi energi itu sudah dioujicobakan di beberapa kota seperti di Medan dan sebelum ini. Misalnya di Denpasar dua tahun lalu uji coba telah dilakukan oleh PT Navigat Organic Energy (NOEI) telah menghasilkan energi listrik 1 MW. Perusahaan itu akan meningkatkan terus kapasitas energy yang dihasilkan dari pengolaan sampah akhir ini menjadi 9,6 MW. Listrik sebesar itu sudah hampir setara dengan produksi listrik yang dihasilkan oleh PLTA Batang Agam. Dari apa yang diujicobakan di Denpasar, ternyata menurut Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, ujicoba pendaurulangan sampah menjadi energi listrik di TPA Sampah di Suwung masih menghadapi kendala kekurangan bahan baku sampah. Sampahnya perlu ditambah.

Dalam kapasitas yang lebih kecil, kita menyatakan salut kepada kepedulian kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB) dalam mengelola sampah bernilai ekonomis yang dikoordinir Pemerintah Kecamatan bersama kelompok Journalist Community Care (JCC). Hal ini telah beroleh apresiasi publik dari Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSL USD) yang beberapa kali berkunjung ke Bukittinggi. Kerja sama lebih lanjut antara PSL USD dan pemko Bukittinggi akan bergerak kepada inisiasi pembentukan koperasi usaha kerajinan daur ulang untuk mendukung gerakan bank sampah di samping penguatan terhadap kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola usaha.

Persoalan keamanan tak krusialnya pula menjadi catatan penting dalam pengembangan wisata di kota berhawa sejuk ini. Beberapa waktu lalau saya membawa kenalan dari Australia menyaksikan keindahan Ngarai Sianok. Di tengah kekagumannya menatap tebing-tebing dan pemandangan nan elok Ngarai Sianok itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh tindakan seorang pengunjung, diduga kuat seorang preman atau penyusup yang tidak membayar uang masuk, melemparkan plastik berisi air kepada kawanan monyet yang biasa mendekati para pengunjung yang bertandang ke objek wisata ini. Celakanya, seorang petugas yang kebetulan menyaksikan peritiwa itu ikut ketawa tanpa berbuat apa-apa. Saya ingat betul dengan ucapan si bule di saat itu, “The person responsible for the animals witnessed mistreatment of animals while laughing. It is really disgusting” (Orang yang bertanggung jawab atas keselamatan hewan malah menyaksikan penganiayaan hewan sambil tertawa. Ini benar-benar menjijikkan).

Saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan wajah memerah malu. Sambil mencairkan suasana saya hanya menyatakan bahwa ini adalah ulah oknum dan longgarnya pengawasan petugas yang boleh jadi sudah terbiasa untuk berlaku longgar dalam hal registrasi dan pengelolaan tiket masuk, terutama bagi orang-orang yang dianggap sebagai warga sekitarnya. Namun demikian tentu ini tidak bisa menjadi alasan karena pengelolaan objek wisata sepenuhnya membutuhkan profesionalisme sebagai bagian dari sektor manajemen publik. Persoalan keamanan merupakan salah satu jantung dari atraksi wisata bagi para turis baik domestik maupun mancanegara.
Jaminan keamanan bukan saja membuat pengunjung leluasa mengunjungi kantong-kantong wisata di Bukitttinggi kapan saja, tapi juga memberikan keyakinan kepada mereka bahwa para turis bukan warga pendatang yang siap dieksploitasi tatkala berkunjung.

Kelengkapan infrastruktur pariwisata di Bukittinggi memang masih menyisakan banyak kekurangan yang selalu saja gagal ditanggapi. Hingga saat ini Pemko Bukittinggi—baik Dinas Pariwisata ataupun Pekerjaan Umum—belum mampu menghadirkan toilet publik yang bersih dan wangi, trotoar yang ramah bagi pejalan kaki dan kaum difabel, parkir yang memadai dengan tarif yang jelas lewat karcis, keberadaan pusat informasi (Information Center) yang sedia bagi para turis, petunjuk jalan menuju objek-objek wisata, maupun informasi acara-acara yang dilaksanakan secara regular. Tanpa infrastruktur, pengembangan pariwisata di Bukittinggi akan berjalan di tempat karena tiadanya kebaruan (novelty) dan kreativitas. (*)

Dikutip dari situs padangekspres.co.id